Istilah "Advocacy by Evidence" sering muncul di halaman Student Care Portal. Artikel ini menjelaskan secara sederhana apa maksudnya, dan kenapa pendekatan ini dipilih ketimbang sekadar menampung keluhan.
Selama ini, banyak keluhan mahasiswa — soal fasilitas, birokrasi, hingga isu yang lebih sensitif seperti kekerasan seksual atau kesehatan mental — berakhir sebagai obrolan di grup WhatsApp angkatan atau story Instagram yang viral sesaat lalu hilang. Masalahnya bukan karena keluhan itu tidak penting, tapi karena tidak ada tempat yang mengumpulkannya secara rapi dan bisa ditindaklanjuti.
Dari Laporan ke Data
Setiap laporan yang masuk lewat Student Care Portal — baik dari kategori akademik, fasilitas, administrasi, keuangan, maupun aspirasi umum — dicatat dengan kategori dan kode pelacakan. Kumpulan laporan ini kemudian dibaca sebagai pola, bukan kasus satuan: berapa banyak laporan soal fasilitas kelas dalam sebulan, dari fakultas mana paling banyak keluhan administrasi muncul, dan seterusnya.
Pola itulah yang menjadi bahan audiensi DEMA ke pihak kampus. Alih-alih datang dengan "katanya banyak yang komplain", DEMA bisa datang dengan angka: berapa laporan, kategori apa saja, dan sejak kapan pola itu muncul.
Kategori Sensitif Diperlakukan Berbeda
Khusus kategori Kekerasan Seksual dan Kesehatan Mental, Student Care Portal sengaja tidak memakai formulir isian bebas yang terbuka. Kedua kategori ini diarahkan ke jalur kontak rahasia dan pendampingan langsung, karena data sensitif semacam ini membutuhkan penanganan yang lebih hati-hati daripada sekadar dicatat dalam basis data terbuka.
"Advocacy by Evidence bukan berarti semua hal harus jadi angka. Untuk isu yang paling rentan, keselamatan dan kerahasiaan pelapor selalu didahulukan."
Ke depan, seiring Tahap 2 dan Tahap 3 road map portal ini berjalan, hasil agregasi dari Student Care Portal akan ditampilkan sebagai dashboard advokasi — supaya proses ini semakin transparan, baik bagi mahasiswa yang melapor maupun bagi pihak kampus yang menindaklanjuti.